nikmat sekali menikmati jakarta. ada bencong badannya gede keliling kampung. orang - orang ada yang takut ama ketawa. mbak di foto ini ngasi duit sambil cengengesan. ternyata kota membentuk manusia hingga berubah bentuk. coba kita bandingin di desa. apa ada yang kayak beginian? jakarta oh jakarta. katanya keras, tapi yang pasti ngangenin.
Thursday, December 18, 2008
bencong kota
nikmat sekali menikmati jakarta. ada bencong badannya gede keliling kampung. orang - orang ada yang takut ama ketawa. mbak di foto ini ngasi duit sambil cengengesan. ternyata kota membentuk manusia hingga berubah bentuk. coba kita bandingin di desa. apa ada yang kayak beginian? jakarta oh jakarta. katanya keras, tapi yang pasti ngangenin.
Tuesday, December 9, 2008
Three kings
ada 4 tokoh utama pada film ini. Yang saya ingat hanya archie dan troy barlow. Empat orang tentara amerika yang mencari emas yang dirampas saddam dari Kuwait. Awal ceritanya sederhana, hanya ego empat orang yang ingin kaya dengan mengambil emas batangan tersebut untuk dibagi bagi mereka sendiri. Agar mereka bisa beli lexus dan infiniti dengan atap terbuka. Rencana mereka tidak muluk. Pergi dipagi hari tanpa ketahuan komandan, mengambil emas tersebut di bunker yang terselubung dekat kota karbala, kemudian kembali ke markas di siang harinya dengan menyembunyikan emas tersebut untuk dibawa pulang nantinya ke amerika setelah tugas selesai. Mereka kaya raya. Itu impian mereka.
Syahdan, misi mereka yang ternyata mudah menjadi rumit. Pertemuan mereka dengan sebuah kelompok yang “disalahkan”, hanya terdiri dari anak –anak, ibu – ibu, dan orang tua. Hati mereka terketuk. Robek – robek karena melihat kenyataan didepan mata mereka. Cerita ,menjadi semakin rumit karena emosi mereka terlibat didalam misi mereka, resah, kasihan dan keinginan untuk menegakkan keadilan.
Akhir cerita ini menjadikan mereka yang awalnya prajurit licik dan egois, menjadi pahlawan. Saya rela begadang untuk mengetahui akhir cerita film ini. Sungguh ironi di irak. Sedih, lucu, konyol, kaget, seru, campur aduk.
Analogikan saya yang pada realitanya seorang pelajar arsitektur menjadi prajurit tersebut. Awalnya hanya asik bermain – main dengan senjata berupa konsep. Senjata saya banyak, simbiosis, sustainable, green, decon, tinggal saya pilih untuk ditembakkan ke mana – mana. Kemudian saya melihat kampung yang runyam, berantakan, porak – poranda. Awalnya saya hanya ingin menggusur kampung tersebut untuk dibuat menjadi apartemen kelas menengah dengan senjata saya. Wuidih…..dengan modal senjata saya yakin bisa membuat apartemen ini ramah lingkungan.
Tapi saya berubah pikiran untuk merubah kampung itu menjadi yang diinginkan penduduk kampung itu tanpa melihat lagi identitas saya berada dimana, developer atau marjinal? Saya sendiri bingung.
Tapi alangkah indahnya film itu. Jagoan selalu menang dengan caranya yang elegan dan bantuan dari berbagai macam orang. Berawal dari pertemuan berakhir dengan menyenangkan dan mengharukan. Tanpa melihat lagi ongkos yang dikeluarkan.
Tapi sekali lagi. Itu cuma difilm.
Tinggal kita buat itu nyata
Syahdan, misi mereka yang ternyata mudah menjadi rumit. Pertemuan mereka dengan sebuah kelompok yang “disalahkan”, hanya terdiri dari anak –anak, ibu – ibu, dan orang tua. Hati mereka terketuk. Robek – robek karena melihat kenyataan didepan mata mereka. Cerita ,menjadi semakin rumit karena emosi mereka terlibat didalam misi mereka, resah, kasihan dan keinginan untuk menegakkan keadilan.
Akhir cerita ini menjadikan mereka yang awalnya prajurit licik dan egois, menjadi pahlawan. Saya rela begadang untuk mengetahui akhir cerita film ini. Sungguh ironi di irak. Sedih, lucu, konyol, kaget, seru, campur aduk.
Analogikan saya yang pada realitanya seorang pelajar arsitektur menjadi prajurit tersebut. Awalnya hanya asik bermain – main dengan senjata berupa konsep. Senjata saya banyak, simbiosis, sustainable, green, decon, tinggal saya pilih untuk ditembakkan ke mana – mana. Kemudian saya melihat kampung yang runyam, berantakan, porak – poranda. Awalnya saya hanya ingin menggusur kampung tersebut untuk dibuat menjadi apartemen kelas menengah dengan senjata saya. Wuidih…..dengan modal senjata saya yakin bisa membuat apartemen ini ramah lingkungan.
Tapi saya berubah pikiran untuk merubah kampung itu menjadi yang diinginkan penduduk kampung itu tanpa melihat lagi identitas saya berada dimana, developer atau marjinal? Saya sendiri bingung.
Tapi alangkah indahnya film itu. Jagoan selalu menang dengan caranya yang elegan dan bantuan dari berbagai macam orang. Berawal dari pertemuan berakhir dengan menyenangkan dan mengharukan. Tanpa melihat lagi ongkos yang dikeluarkan.
Tapi sekali lagi. Itu cuma difilm.
Tinggal kita buat itu nyata
Monday, November 24, 2008
BUKAN PINTU
Friday, November 21, 2008
GSB?
foto ini saya ambil dibelakang plaza semanggi. lebih tepatnya didekat parkiran motor mall tersebut. daerah tersebut merupakan jalan pintas bagi kendaraan roda dua menuju jalan jendral sudirman dari jalan let.jend. gatot subroto. dari foto diatas dapat dilihat rumah sama sekali tidak memiliki GSB (Garis Sempadan Bangunan). keselamatan didalam rumah sedikit terancam karena jalan didepan sering dilalui kendaraan bermotor. resapan air di daerah ini juga menjadi berkurang. inilah dampak dari perencanaan kota yang tidak terencana.
Monday, November 3, 2008
i take this picture from roxy square at west jakarta. look at the dwelling beside cideng river. we can see density at there from that picture. how if we built high rise building for living at there to replace this area and make more quality living at there to support a goverment program about 1000 tower apartement for middle-lower? it can, i now and i hope.
AC
Air Conditioner, apabila di Indonesiakan bernama Pendingin Udara. Alat ini sudah menjadi menu utama dalam menjawab masalah banjir matahari di iklim tropis. Masyarakat modern mengganggap ini adalah cara tercepat untuk menyelesaikan masalah kenyaman thermal didalam ruang. Karena apabila terjadi kenaikan suhu satu derajat saja didalam ruang, kita bisa mengendalikan suhu melalui remote dengan menurunkan suhu untuk mencapai kenyamanan suhu yang kita inginkan.
Tapi tidak sadarkah kita? Kenyaman ruang yang kita dapat dengan sangat cepat dari AC ternyata menjauhkan kita dari realitas bahwa kita memang hidup di daerah tropis? Dampaknya pada desain arsitektur adalah terbentuk desain – desain yang berani menantang matahari, hujan dan kelembapan. Imbas terkini adanya trend desain minimalis. Wuidih…….! Desain yang berakar dari Zen Budhisme ini disalah artikan di Indonesia. Beban berat bagi bangunan itu untuk melawan alam tropis Indonesia.
Manusia, khususnya yang berada dalam taraf mampu, mengalami ketergantungan yang amat sangat terhadap AC. Sehingga rumah atau bangunan dengan fungsi publik seperti kantor, museum, mall, dan lain – lain dibangun dengan begitu sombongnya terhadap alam. Desain sangat berani bertubrukan dengan panas dan hujan sehingga akibat yang dirasakan adalah tagihan listrik meningkat. Alam, tanpa kita sadari memiliki energi perusak yang lebih besar dari manusia loh…! Kita, tanpa sadar menggerogoti keseimbangan terhadap alam.
AC memang menghasilkan udara sejuk didalam ruang, tapi mesin pendingin udara juga menghasilkan panas akibat energi yang terbuang. Panas tersebut ditampung di lingkungan sekitar dan menyebabkan panas mikro di sekitar mesin ac. Itu baru di satu mesin pendingin udara. Bayangkan rata – rata satu rumah memiliki tiga pendingin udara. Kita makrokan lagi, dikawasan perumahan tersebut terdapat seribu rumah yang memakai tiga pendingin udara. Berarti ada tiga ribu mesin pendingin udara yang aktif. Kemudian di kawasan tersebut terdapat empat kawasan perumahan, berarti ada dua belas ribu mesin pendingin udara aktif yang kesemuanya selain menyumbangkan kesejukan udara bagi ruang didalam rumah juga menyumbangkan panas bagi lingkungan sekitar. Itu belum termasuk kawasan perkantoran di Sudirman dan Thamrin dan masih banyak lagi kawasan bisnis di Jakarta yang amat sangat tergantung oleh AC. Itu belum kita kalkulasikan dengan keseluruhan bangunan di Jakarta yang memakai AC, itu juga belum daerah – daerah lain seperti Bandung, semarang, Surabaya, Sidoarjo, Klaten, Sragen, New York, Dubai, dan kota – kota yang lain. Berarti kita tidak boleh mengeluh kenapa udara Jakarta bertambah panas kan? Lepas dari isu pemanasan global, yah kita – kita juga sebagai arsitek menyumbangkan panas karena desain kita yang sombong.
Jadi secara langsung mesin AC juga menjadi penyumbang panas langsung secara makro bagi Jakarta, karena manusia lebih memilih teknologi yang tidak dapat dipungkiri sangat mensejahterakan manusia bernama AC, daripada desain yang tepat untuk menangkal ganasnya sinar matahari iklim tropis yang lepas dari ketergantungan energi.
Coba kita berpikir jauh kedepan. Apabila energi habis, pendingin udara pasti tidak akan ada gunanya. Apa kabar bangunan yang menantang alam tadi? Pasti tidak akan ada yang menghuni karena tidak ada pendingin udara lagi di dunia ini yang bisa dipakai, atau mungkin bangunan itu akan dibongkar untuk menyesuaikan dengan iklim tropis setempat? Kemudian bagaimana dengan bangunan yang tanggap iklim? Pastinya penghuninya tenang – tenang saja karena kenyaman suhu didalam ruang telah dia dapatkan tanpa bantuan pendingin udara.
Saya sangat setuju dengan pernyataan Bapak Ridwan Kamil, dan misi luhur Bapak Adi Purnomo. Kita harus rela berkeringat, rela berpanas – panasan, rela mandi dua kali atau bahkan tiga kali sehari untuk menghilangkan gerah.Ya karena kita hidup didaerah tropis. Selain untuk menghemat tagihan listrik karena pemakaian AC ya juga untuk memikirkan bagaimana desain yang baik bagi iklim tropis Indonesia dengan merasakan berpanas – panasan sebagai tanggung jawab kita sebagai arsitek iklim tropis, disamping juga ikut menambah area hijau pada pekarangan rumah kita tentunya. Saya mengutip dari Alvar Alto “wir brauchen die nature, die nature braucht uns nicht” (kita memerlukan alam tetapi alam tidak bergantung kepada kita). Semoga bisa menjadi tambahan pemikiran, bukan tambahan keluh kesah karena udara yang semakin hari semakin panas. Gerah ah…ngipas dulu….!
Tapi tidak sadarkah kita? Kenyaman ruang yang kita dapat dengan sangat cepat dari AC ternyata menjauhkan kita dari realitas bahwa kita memang hidup di daerah tropis? Dampaknya pada desain arsitektur adalah terbentuk desain – desain yang berani menantang matahari, hujan dan kelembapan. Imbas terkini adanya trend desain minimalis. Wuidih…….! Desain yang berakar dari Zen Budhisme ini disalah artikan di Indonesia. Beban berat bagi bangunan itu untuk melawan alam tropis Indonesia.
Manusia, khususnya yang berada dalam taraf mampu, mengalami ketergantungan yang amat sangat terhadap AC. Sehingga rumah atau bangunan dengan fungsi publik seperti kantor, museum, mall, dan lain – lain dibangun dengan begitu sombongnya terhadap alam. Desain sangat berani bertubrukan dengan panas dan hujan sehingga akibat yang dirasakan adalah tagihan listrik meningkat. Alam, tanpa kita sadari memiliki energi perusak yang lebih besar dari manusia loh…! Kita, tanpa sadar menggerogoti keseimbangan terhadap alam.
AC memang menghasilkan udara sejuk didalam ruang, tapi mesin pendingin udara juga menghasilkan panas akibat energi yang terbuang. Panas tersebut ditampung di lingkungan sekitar dan menyebabkan panas mikro di sekitar mesin ac. Itu baru di satu mesin pendingin udara. Bayangkan rata – rata satu rumah memiliki tiga pendingin udara. Kita makrokan lagi, dikawasan perumahan tersebut terdapat seribu rumah yang memakai tiga pendingin udara. Berarti ada tiga ribu mesin pendingin udara yang aktif. Kemudian di kawasan tersebut terdapat empat kawasan perumahan, berarti ada dua belas ribu mesin pendingin udara aktif yang kesemuanya selain menyumbangkan kesejukan udara bagi ruang didalam rumah juga menyumbangkan panas bagi lingkungan sekitar. Itu belum termasuk kawasan perkantoran di Sudirman dan Thamrin dan masih banyak lagi kawasan bisnis di Jakarta yang amat sangat tergantung oleh AC. Itu belum kita kalkulasikan dengan keseluruhan bangunan di Jakarta yang memakai AC, itu juga belum daerah – daerah lain seperti Bandung, semarang, Surabaya, Sidoarjo, Klaten, Sragen, New York, Dubai, dan kota – kota yang lain. Berarti kita tidak boleh mengeluh kenapa udara Jakarta bertambah panas kan? Lepas dari isu pemanasan global, yah kita – kita juga sebagai arsitek menyumbangkan panas karena desain kita yang sombong.
Jadi secara langsung mesin AC juga menjadi penyumbang panas langsung secara makro bagi Jakarta, karena manusia lebih memilih teknologi yang tidak dapat dipungkiri sangat mensejahterakan manusia bernama AC, daripada desain yang tepat untuk menangkal ganasnya sinar matahari iklim tropis yang lepas dari ketergantungan energi.
Coba kita berpikir jauh kedepan. Apabila energi habis, pendingin udara pasti tidak akan ada gunanya. Apa kabar bangunan yang menantang alam tadi? Pasti tidak akan ada yang menghuni karena tidak ada pendingin udara lagi di dunia ini yang bisa dipakai, atau mungkin bangunan itu akan dibongkar untuk menyesuaikan dengan iklim tropis setempat? Kemudian bagaimana dengan bangunan yang tanggap iklim? Pastinya penghuninya tenang – tenang saja karena kenyaman suhu didalam ruang telah dia dapatkan tanpa bantuan pendingin udara.
Saya sangat setuju dengan pernyataan Bapak Ridwan Kamil, dan misi luhur Bapak Adi Purnomo. Kita harus rela berkeringat, rela berpanas – panasan, rela mandi dua kali atau bahkan tiga kali sehari untuk menghilangkan gerah.Ya karena kita hidup didaerah tropis. Selain untuk menghemat tagihan listrik karena pemakaian AC ya juga untuk memikirkan bagaimana desain yang baik bagi iklim tropis Indonesia dengan merasakan berpanas – panasan sebagai tanggung jawab kita sebagai arsitek iklim tropis, disamping juga ikut menambah area hijau pada pekarangan rumah kita tentunya. Saya mengutip dari Alvar Alto “wir brauchen die nature, die nature braucht uns nicht” (kita memerlukan alam tetapi alam tidak bergantung kepada kita). Semoga bisa menjadi tambahan pemikiran, bukan tambahan keluh kesah karena udara yang semakin hari semakin panas. Gerah ah…ngipas dulu….!
Monday, October 20, 2008
Subscribe to:
Posts (Atom)
