Friday, February 8, 2008

Sentuh

Sentuh

Ketika bayi lahir, sentuhan kita kepadanya mungkin membuat kita menitikkan air mata. Begitu halus karunia yang datang dari Yang Kuasa. Jari – jari mungil merah karena kulit yang begitu tipis. Masih baru. Tapi apakah yang bayi rasakan? Apakah sama dengan rasa bangga yang didapat oleh orang tuanya dengan rasa kasih berlebih yang sangat dalam? Tidak menutup kemungkinan juga jijik yang amat sangat yang mungkin bayi mungil itu tidak mengerti rasa apa itu. Dan dia tetap bertanya – tanya dalam kebutaan sementaranya.

Tetapi apa yang terjadi ketika bayi itu beranjak dewasa dan sudah tahu atau mengalami makna persentuhan melalui sebuah rentang proses waktu? Melalui sebuah pendidikan yang tak sadar ataupun dari kebiasaan yang tercipta dari kebudayaan manusia selama ini sehingga menjadi baku atau patokan. Atau bisa jadi dari sifat primitif manusia yang bisa disebut binatang dalam disiplin ilmu tertentu. Makna dalam persentuhan dengan bunda atau ayah mungkin kita semua sudah pahami. Itu adalah cinta yang terjalin dengan dekskripsi jelas. Anak – ayah – anak – bunda. Hubungan darah yang susah berpisah.

Dengan sesama jenis tak kita pungkiri lagi mayoritas khalayak disini yang relatif normal, dan sudah mengerti arti sentuhan antar sesama. Gelagak rasa beda mungkin terasa oleh kaum – kaum marjinal yang jumlahnya tidak lebih dari sepuluh persen dari jumlah manusia di bumi. Lesbi dan homo. Tapi gelegak apa yang kita rasa bila bersentuh dengan lawan jenis? Apalagi bila kita punya rasa. Disini tak perlu kita bicara bila kita tak punya rasa bukan? Sentuh itu tidak punya arti dan berlalu begitu saja dan akan lupa kemudian larut dalam waktu.

Sentuh itu begitu bermakna, dengan gejolak yang tak terdekskripsi seperti menumpahkan pikir ke dalam bentuk kata. Sentuh menjadi memiliki nilai yang begitu tinggi dan mempunyai label harga yang sangat mahal untuk didapat atau diraih. Seperti label harga di toko – toko lantai dasar Plaza Senayan. Dimana momen – momen itu tidak setiap saat kita dapat. Hal itu lumrah untuk diimpikan dengan ungkapan dan perilaku yang tidak cukup untuk membuktikan. Tapi pembelajaran bisa kita dapat dan usahakan bagi kita yang menyimpan dan menyembunyikan. Merasa dengan tidak menyentuh. Bisa kita coba sensasi itu. Dengan cukup hanya pandangan dan bicara dan diakhiri dengan diam.

Tanpa maksud merendahkan pelacur yang bersentuh karena suatu yang bisa jadi paksaan dari suatu kebutuhan materi dari dalam dirinya. Dimana sentuhnya tidak berarti baginya, bahkan proses penyatuan badannya dia lewati seadanya tanpa memaknai apa itu arti sentuh bagi dirinya sendiri karena dia sudah membuat tendensi antara saraf sentuhnya dengan hatinya yang dia lelapkan. Dia tidak mau lebih dari suatu urusan bisnis badan.

Disini arti sentuh kita memiliki apresiasi yang begitu tinggi. Karena dia berharga dan pantas untuk mempunyai harga. Karena rasa bermain di dalamnya. Salah apabila sentuh itu berkait dengan nafsu karena pelacur pun tidak memakai nafsu. Pengguna pelacur yang memuja nafsu disini. Paling tidak kita bisa saling percaya bahwa sentuh kita bukan sentuh lacur yang membawa kemalangan dan tidak mau itu terulang.

Dimana sentuh memiliki arti? Ke bunda, ayah, saudara, sahabat, terkasih, bahkan ke pelacur? Asal tidak membawa buntut seperti yang diungkapkan sebelumnya. Nafsu. Karena akan menjadi lacur dan menjadi pengalaman yang mahal harganya.

Wednesday, February 6, 2008

Indonesia Punya Bahasa?

Indonesia Punya Bahasa?

Indonesia punya bahasa? Pada tanggal 28 Oktober 1928 diadakan kongres sumpah pemuda. Salah satu hasil kesepakatannya bahasa Indonesia adalah bahasa persatuan. Di waktu yang sudah jadi sejarah itu pemuda berikrar bahwa kita berbahasa satu bahasa indonesia. Tapi pengertian yang mempunyai wujud untuk menyatukan itu sudah mulai bergeser sangat jauh, bahkan tersingkir dipojokan gelap. Lihat kita sekarang, dengan bangganya berbahasa asing. Reklame – reklame yang menggunakan bahasa dari ibu orang lain dengan tujuan menarik minat dan berujung pada ”keuntungan”, belum lagi judul – judul film, foto,semboyan trade mark merk, apa bahasa indonesia tidak mampu mengartikannya? Sering kali kita bertegur sapa dengan sahabat ” what’s up bro!”, ” hai, man!”. Kebanggaan yang berujung pada geleng – geleng kepala rombongan 1928 bila mereka masih ada. Dengan susah payah mengumpulkan manusia – manusia bersuku beda dengan tujuan menyatukan persepsi yang berujung pada kata ”MERDEKA...!”. dengan titik awal meniadakan kata urang, awak, kulo, beta menjadi satu kata ”aku” yang berlaku untuk seluruh indonesia. Perlu kita ingat mereka tidak sedang berwisata keliling – keliling kota. Begitu sombongnya kah kita? Sampai lupa akan pentingnya sebuah bahasa indonesia? Padahal itu bahasa persatuan kita yang telah disempurnakan dengan ejaan yang telah disempurnakan (EYD) oleh ahli – ahli bahasa negeri ini. Tentu saja kita tidak lihat mereka berdebat – debat untuk memperoleh makna dari sebuah kata yang bertujuan untuk lebih sempurna dan tidak boros huruf. Memang kita sangat terbuka dengan apa itu pengaruh. Tapi apa kita tidak bisa memilih? Memilah? Seakan – akan semua yang dari luar bagus? Apa disini tidak ada yang baik? Yang bisa kita banggakan? Di suatu proyek besar bangunan tinggi dua puluh delapan lantai. Pekerja – pekerja kasar dengan peluh – peluh keringat yang mendekati bau tak sedap bercanda dengan teman seprofesinya di dalam alimax yang sedang naik turun melayani pekerja. Mereka menggunakan bahasa daerah masing – masing yang bisa diketahui darimana mereka berasal, kaum urban-isasi yang cari makan di kota metropolis mengkilap. Walaupun hanya terdengar dua bahasa daerah di telinga yang asing ini yaitu bahasa sunda yang ramah tapi terdengar capek ingin segera turun beristirahat dan bahasa jawa yang kesal karena menunggu alimax terlalu lama padahal ingin cepat turun karena perut lapar dan udara sudah semakin menggerahkan kulit. Mereka tidak keluar dari ke Indonesiaannya yang mungkin tidak begitu mereka banggakan. Atau tidak bisa keluar dari keindonesiaannya? Padahal ingin keluar buru - buru. Paling tidak mereka tetap mengindonesiakan indonesia. Walaupun terpaksa dan tak tahu. Zaman memang tidak bisa dilawan. Bahasa asing itu wajib hukumnya menyambut globalisasi. Dimana kita harus menginternasional kan diri kita sendiri agar laku di pasar. Tetapi tetap bahasa itu hanya tamu di rumah kita. Dimana dia tetap menjadi makhluk kelas dua karena kita sudah punya bahasa sendiri. Bukan menjadi anak gaul di kampung orang. Yang bisa dipukuli kalau songong, cengos, palontong. Bahasa tidak menaikkan harkat dan martabat manusia karena fungsinya sebagai alat komunikasi yang normatif. Bahasa adalah identitas, darimana kita berasal. Yang pasti indonesia punya bahasa ibu. Yang wajib dihargai? Atau tidak sama sekali?

Tuesday, February 5, 2008

Aku yang Bukan Aku

Aku yang Bukan Aku

“Aku adalah karakter. Aku ada di dalam tubuh manusia. Aku tidak bisa diraba karena bentukku bukanlah materi, dan akupun tidak berkelamin, tapi kalian bisa merasakanku, ke ”ada”an ku tidak usah kalian pertanyakan lagi. Karena eksistensiku sudah ada di masing – masing kalian, karena aku bisa kalian rasakan. Dalam pendekskripsian yang berbeda dari kamu – kamu yang tentu tidak sama dengan ku. Kalian dapat menyentuh ku, atau bahkan disentuh oleh ku.
Aku baik menurutku. Karena aku tahu diriku, siapa aku, apa bentukan ku, apa yang mempengaruhiku, apa atau siapa yang membuatku berani hingga menerkam seperti macan, bahkan membuatku takut sehingga menjokok ketakutan di sudut ruang. Aku bangga akan akan diriku, sekali lagi karena aku tahu siapa aku, bukan kalian yang sok tahu siapa aku. Padahal masih banyak misteri yang aku sendiri pun tak tahu. Aku terlihat karena aku memang memperlihatkan diriku, tetapi tetap terselubung badan ku.
Di luar ke ”aku”an ku adalah ”kamu”. Tersadar aku bahwa aku adalah bukan aku tanpa kamu. Aku tak akan terbentuk menjadi aku tanpa ada kamu. Kamu – kamu yang memiliki ke akuan sendiri – sendiri, bahwa kamu yang membuat aku memiliki apa yang disebut aku. Tanpa ada kamu aku tidak akan menjadi aku, karena penilaian “aku“ ku kamu juga yang menilai.
Tapi pengaruh kamu kadang tidak menguntungkan aku. Dimana ketika kamu menjadi banyak, aku akan kehilangan ke akuanku yang dilawan dari luar ke akuan ku. Kamu – kamu yang memiliki pengaruh atau bisa jadi aura yang terkumpul yang membunuh keakuanku. Salahkah? Bisa benar, bisa salah. Tergantung di posisi mana aku ku kuletakkan. Disini aku lah yang memilih. Apa ke akuan ku kalian berangus karena aku ku yang tidak menguntungkan kamu sehingga aku ku harus berontak. Atau aku diam saja dan menyerah karena aku ku tidak mampu melawan kamu? Atau aku harus mengharap bahwa kamu akan menghargai ke akuan ku? Enak saja”.
Itulah tadi keluh kesah si aku. Aku yang mungkin banyak bertanya tentang hilangnya ke”aku”annya. Menjadi hilang ke ”aku”annya karena pengaruh ”kamu”. Tetapi apakah ”aku” tidak boleh menjadi ”aku”. Mengerti akan keberadaan ”aku” yang ingin jujur dengan ke ”aku”annya. Tanpa ada bohong. Paling tidak diusahakan oleh aku.
Yah...!paling tidak aku sudah bercerita tentang akunya yang terkadang terpengaruh dan kadang berusaha dipertahankan. Aku pun dapat mengakui akan ke akuannya yang bisa saja hilang untuk bertahan pada ke akuannya. Sekali lagi paling tidak dia berusaha untuk menjadi akunya sendiri yang bersih dan suci dengan ”aku”nya tanpa ada kotor – kotor dari ”kamu” yang mana bisa saja disebut publik.
”Aku” dalam bentuk karakter akan menghilang apabila sudah berada dalam bentuk massa, tapi bisakah karakter tetap bisa muncul dalam jumlah massa? karakter individu tentunya bukan karakter massa.
Karakter bodoh yang muncul dalam sebuah institusi besar sebagai contoh universitas yang bisa kita lihat dalam kehidupan kita sehari – sehari membentuk sebuah pengaruh kepada massa yang secara langsung juga menjadi bodoh dan terhalusinasi oleh sebuah keputusan dari karakter yang bodoh.
Kesempatan yang diperoleh membuat karakter pintar yang tidak memiliki kesempatan untuk menciptakan pengaruh pintar, kehilangan taji untuk mempengaruhi. Sepertinya disini kesempatan yang dipersalahkan, akan tetapi ini cuma masalah peruntungan dan ambisi. Sekali lagi apakah ”aku” bisa memberikan pengaruh yang pintar atau bodoh dalam sebuah kesempatan dan peruntungan dalam tulisan yang membingungkan ini? ”aku” ku pun tak bisa menjawab, hanya bisa memilih.


Odie Banoreza

Sunday, February 3, 2008

Dering

Dering

Dering. Apa itu mengganggu? Bunyi – bunyi selain dering juga kita dengar setiap hari. Banyak yang luput. Terlewat. Padahal ada banyak yang masuk ke telinga – telinga jeli kita. Tapi terpisah begitu saja. Tanpa diatur. Tanpa kita sadar bisa jadi. Karena kita mendengar hanya apa yang kita anggap perlu. Kita sering hanya mendengar cakap. Karena itu kita anggap. Banyolan dari mulut yang berlagak dengan mimik serius. Tapi bisa berubah – ubah. Hercules pun pernah tertawa karena dia sedang perlu.

Dering yang berasal dari kantong celana, saku kemeja, diatas meja, dibalik bantal memanggil. Bukankah kita pun terpanggil. Senang mungkin karena ternyata ada yang perlu. Berbunyi selalu bila ada yang perlu. Apa dia berbunyi ketika tidak ada yang perlu? Kembali kepada cakap. Kita hanya bercakap setelah dering berlalu. Bermain jari yang tak disangka membentuk sebuah cakap. Cakap yang menjadi karena bentukan dari perlu. Karena dering itu hanya alat.

Layaknya sebuah istilah teater politik tidak ada kawan abadi yang ada hanyalah kepentingan abadi. Alat itu tidak bisa terpakai bila kita adaktil. Toh kita juga bisa menggunakannya dengan tidak subtil. Sehingga dering tetaplah dering. Dering kosong melompong. Karena dering itu kotor.

Apa kita ketika perlu baru nampak dalam sebuah hubungan. Muncul dari semak belukar. Jujur saja kalo itu memang. Toh memang begitu. Dering itu berkumandang seperti adzan. Hanya saja adzan panggilan untuk bertemu Tuhan. Nada sambung yang selalu sama. Dan panggilan itu bukan berupa miss call. Sama saja dengan lonceng gereja yang berbunyi itu – itu saja. Dengan nada dan irama tak berubah. Sedangkan dering ”perlu”. Berasal dari siapa saja. Dengan kepentingan apa saja. Dengan bunyi yang tidak sama. Bisa berubah semaunya. Bisa dipilih dan diatur. Sesuka hati kita. Toh bercampur juga setiap perlu yang kita terima dari dering.

Apa kamu senang diperlukan? Dimanfaatkan? Demi kepentingan perseorang, kelompok, bahkan gerombolan. Karena kita semua pasti selalu bermain dengan pengertian kata ”perlu”. Diperlukan dan memerlukan. Saling terkait akan hubungan walaupun tidak dalam. Hanya beralas pada perlu saja. Butuh dan tidak lebih tapi berembel dengan makna lain yang lebih halus dan nyaman terdengar. Begitu sederhananyakah? Entah pengertian ”perlu” disini bisa disebut hina atau bisa diterima karena memang sudah begitu adanya. Tersubyektifkan sehingga tidak ada benar.

Dering itu berbunyi ketika kita sedang terlelap. Bahkan ketika kita mau lari dari perlu. Ketika buang hajat pun dia bisa berbunyi. Bisa jadi berasal dari pantat. Kapan saja dia bisa memanggil – manggil karena ada perlu. Berarti benar bahwa manusia tidak bisa hidup sendiri, karena manusia adalah makhluk yang banyak perlu. Perlunya pun beragam. Bisa untuk kebaikan, ketamakan, keperluan tetua dimana perlu menjadi kuadrat dan perlu menjadi ditumpangi, perlu akan hati, perlu akan batin, dan perlu – perlu lain yang pasti berembel banyak. Jadi bisakah kita manusia yang bermitos terbaik di jagat ini bisa menjadi makhluk tidak perlu? Pasti bisa dijawab sendiri. Sssttttt......dengar! Dering itu berbunyi lagi.

Wednesday, January 30, 2008

Malin

Malin

Malin terbangun dari sujud sembahnya yang muram. Dengan raga berbentuk batu yang didapat dari kutukan ibunya. Ditemani malam gelap dingin, sunyi, dan sepi hanya ditemani riuh rendah bunyi jangkrik dan kelap kelip kunang – kunang dia menatap bulan purnama. Bukan bulan yang dikagumi. Dia teringat ibunya.
Malin rindu. Ya...rindu. Rindu akan suatu kasih sayang. Dari ibu. Seperti kita yang juga sama seperti malin. Bisa merindu. Hanya malin sekarang terbuat dari batu. Kita tak usah mengganggu malin sekarang. Tapi apa yang kita rindukan sekarang? Samakah seperti malin? Atau kita merindukan yang lain? Seorang wanita atau pria ideal mungkin? Seonggok harta barangkali? Sebuah berhala bisa jadi? Atau rindu akan seorang yang peduli? Atau kesemuanya? Rakus. Jangan.
Bila kita menjadi rakus apa mau tetap menjadi peduli? Banyak sekali orang merindukan si peduli. Yang mau menengok bila ada yang membutuhkan. Bahkan ketika tidak dibutuhkan. Seperti Muhammad, Yesus, Sidharta, gandhi. Tapi kenapa kesemua tokoh spiritual? Apa yang cukup beragama saja atau bahkan yang tidak beragama tidak? Jangan tanya saya. Kita hanya kenal yang terkenal. Yang tidak mencolok bisa kita tidak tengok. Manusia harus rela. Tidak terkenal bukan menjadi halangan jadi peduli, untuk welas asih. Paling tidak semampunya.
Rindu itu sebuah anugerah. Entah diberi oleh siapa. Dari yang kita rindukan kah? Dari hormon yang terproses dari tubuh kah? Atau dari Tuhan kah? Tetap hanya bisa dinikmati terus dinikmati sampai hilang dengan sendiri. Atau kita usahakan untuk dibutuhi. Rindu Cuma bisa dirasa oleh manusia. Apa kalian bisa bisa merasakan anjing yang rindu? pohon yang kangen?
Mao zedong bukan sosok yang dirindu. Dia membantai ribuan orang dalam revolusi kebudayaan di cina. Menjadikan pemuda sebagai alat untuk menyingkirkan lawan – lawan politiknya. Chrisye sudah berpulang, serindu apapun kita padanya kita hanya bisa mengirim doa. Kita bisa melepaskan hasrat rindu dengan mendengarkan suaranya cukup dari kaset saja. Gesang sedang sakit di solo tidak ada yang menengok. Apa tidak ada yang merindukannya? Kasetnya tidak dijual di toko kaset. Terakhir terlihat di TVRI. Itupun sudah puluhan tahun yang lalu.
Serindu apapun manusia terhadap manusia sangat disayangkan bila hanya menghasilkan sebuah kenihilan. Kenihilan yang membuat perindu diam. Tidak menggerakkan kehidupannya dan hanya berada disitu – situ saja. Konteks ini mungkin tidak hanya pada manusia, bisa yang lain. Tapi toh tetap dijalankan kenihilan itu. Kenihilan juga bukan hanya berasal dari rindu. Rindu adalah kenikmatan yang bisa diakhiri. Karena bukan kenikmatan yang abadi yang dibawa sampai mati dan juga bukan suatu kewajiban yang harus dijalani. Kita bisa pergi dari rindu kalau memang merasa itu sudah cukup. Karena hidup terus berlanjut. Dan rindu hanyalah bagian dari manisnya hidup, yang bisa didepak jika sudah dianggap mengganggu atau tidak berujung pangkal. Hidup bukan hanya merasa manis. Mungkin kita sudah tahu itu.
Hei lihat.... Kasihan malin. Ditengah rindunya yang tidak akan terkabul dia harus menyembah kembali meminta ampun. Dipinggir pantai dengan angin yang semilir dia kembali membatu karena hari menjelang pagi. Tapi dia tetap rindu. Rindu sama ibu.

Bertanya Cipta

Bertanya Cipta

Apakah mencipta milik Tuhan atau manusia? Fredrich Wilhelm Nietzsche sampai mematikan Tuhan agar manusia bisa bebas mencipta. Tanpa harus berpikir tentang dosa, manusia pun bisa mencipta tanpa bayang – bayang sesosok Tuhan dan memang dia adalah seorang atheis. Tuhan dianggapnya tidak ada dan sudah dimatikan didalam benaknya sehingga manusia adalah obyek dari pemikirannya tanpa suatu campur tangan Tuhan. Tapi siapa tahu? Itu pernyataan ekstrem yang dikemukakan dari orang yang kesepian dari cerita buku fuad hasan. Yang berujung kegilaan. Sangat menakutkan mungkin buku yang dikarangnya bagi orang – orang yang tidak mau berpetualang dalam dunia pikir.
Pikiran saya terganggu tentang kita, manusia yang bisa membuat mobil, telepon genggam, pakaian, flashdisk dan semua kebutuhan yang dibuat memang semata – mata untuk manusia itu sendiri. Walaupun disini saya kagum dalam posisi sebagai pengguna. Alat yang diadakan untuk mempermudah kehidupan kita sebagai manusia. Dibuat dengan manusia sebagai pembuat, pengguna dan penikmatnya. Kekaguman yang begitu besar dari lubuk hati saya melihat sebuah karya yang berasal dari otak. Segala asal semua berasal. Dimana didalamnya terdapat khayal, imajinasi, ilmu pasti, mimpi yang memungkinkan semua ada dan menjadi mengada. Menjadi esensi lebih tepatnya alat – alat itu menurut Jean Paul Sartre. Yang menjadi pertanyaan mendasar sebagai bahan pemikiran kita semua adalah manusia yang menciptakah sebagai suatu eksistensi? atau dari Tuhan kah semua hasil cipta itu sebagai Sang Pencipta?
Semua berasal dari hasil peradaban bukan dari kebudayaan, dan ini bukan pendapat saya. Membicarakan relevansi antara mencipta dengan peradaban dan kebudayaan, kita lihat perbedaannya dari pengertian peradaban dan kebudayaan, Nicholas Alexandrovitch Berdyaev memiliki pengertian yang menarik. “Baginya peradaban merupakan perwujudan dari ikhtiar manusia untuk menanggapi keharusan – keharusan yang dituntut oleh alam. Peradaban adalah karya manusia sendiri untuk memenuhi tuntutan alamiah yang dihadapinya. Kebudayaan juga merupakan hasil karya manusia, tetapi hal ini berhubungan dengan kebutuhan spiritualnya” kesimpulan Berdyaev ini saya kutip dari Fuad Hasan pada bukunya ”Berkenalan Dengan Eksistensialisme”. Apa yang kita rasa adalah produk dari sebuah peradaban yang terus berkembang dan kebudayaan adalah bentuk dari religiusitas kita sebagai manusia yang merindukan pertemuan dengan Tuhan. Yang saya pertanyakan apakah alat – alat kita yang dihasilkan sampai sekarang ini didapat dari kerja keras manusia atau memang sudah jalan manusia dari Tuhan untuk kemudian diberi kenikmatan seperti sekarang ini?
Menurut pemikiran saya dengan melepaskan diri saya dari sejarah umat manusia menurut agama yang saya anut dan saya ketahui dimana saya hanya menggunakan analisa sampah, manusia diturunkan ke dunia sebagai orang yang dungu dan bodoh yang dipaksa harus menjawab tantangan dari alam. Dengan hadir di dunia dengan hanya bermodal sifat kebinatangan karena kita belum belajar. Kemudian proses dari tidak tahu menjadi tahu terjadi. Proses ini terus berlanjut hingga sekarang dan belum berhenti. Atau lebih singkatnya dialektika mengutip kata temuan frederick engels.
Dalam hal pengertian sampah saya tentang materialis dan idealisme mencampur. Manusia diturunkan oleh Tuhan dan dilepas seperti anak ayam yang tidak punya induk. Berusaha sendiri dan memilih jalan kehendaknya sendiri. Kita bebas sejak turun ke dunia bahkan saat menjalani hidup di dunia. Tetapi saya sendiri tidak bisa lepas dari suatu ide absolut. Penyatuan materialisme dan idealisme mencampur disini dilihat dari kalimat saya tentang diturunkannya manusia oleh Tuhan. Manusia masih diurusi oleh Tuhan tetapi selebihnya kita diberi kebebasan bahkan kuasa pada ciptaannya. Sampai – sampai mempertanyakanNya pun kita diizinkan.
Dimana Tuhan menurut kalangan materialis mungkin masih dipertanyakan. Tetapi ada pandangan dari Karl Jaspers seorang eksistensialis yang juga bisa menjadi pertimbangan, dia menulis ” makin sejati kebebasan seseorang, makin kuat kepastiannya tentang Tuhan. Kalau saya sungguh – sungguh bebas, saya menjadi pasti bahwa saya tidak bebas karena saya sendiri.”
Pertentangan akan hal idealisme dan materialisme memang sangat sulit untuk didamaikan dimana saya pun berada dibenak melayang yang tidak berani untuk menjawab tetapi terus mencari seperti Karl Jaspers yang tidak ingin mencapai titik sudah. Dimana pernyataan Karl Jaspers “tujuan suatu kehidupan berfilsafat tidak mungkin dirumuskan sebagai suatu keadaan yang bisa dicapai dan, bilamana sudah dicapai, lalu menjadi sempurna… tujuannya terletak pada sifat asli kita untuk terus – menerus dalam perjalanan”.
Tetapi manusia tetap memiliki kebebasan yang sangat luas untuk memilih. Apakah cipta memang punya manusia, atau kebaikan dari Tuhan dimana manusia diberi pula kuasa untuk mencipta. Mungkin kata yang tepat bukan mencipta bagi manusia.
Jadi cipta yang sekarang punya siapa? Ide absolut atau manusia?
Itu saya serahkan kepada anda. Manusia berotak.