i take this picture from roxy square at west jakarta. look at the dwelling beside cideng river. we can see density at there from that picture. how if we built high rise building for living at there to replace this area and make more quality living at there to support a goverment program about 1000 tower apartement for middle-lower? it can, i now and i hope.
Monday, November 3, 2008
i take this picture from roxy square at west jakarta. look at the dwelling beside cideng river. we can see density at there from that picture. how if we built high rise building for living at there to replace this area and make more quality living at there to support a goverment program about 1000 tower apartement for middle-lower? it can, i now and i hope.
AC
Air Conditioner, apabila di Indonesiakan bernama Pendingin Udara. Alat ini sudah menjadi menu utama dalam menjawab masalah banjir matahari di iklim tropis. Masyarakat modern mengganggap ini adalah cara tercepat untuk menyelesaikan masalah kenyaman thermal didalam ruang. Karena apabila terjadi kenaikan suhu satu derajat saja didalam ruang, kita bisa mengendalikan suhu melalui remote dengan menurunkan suhu untuk mencapai kenyamanan suhu yang kita inginkan.
Tapi tidak sadarkah kita? Kenyaman ruang yang kita dapat dengan sangat cepat dari AC ternyata menjauhkan kita dari realitas bahwa kita memang hidup di daerah tropis? Dampaknya pada desain arsitektur adalah terbentuk desain – desain yang berani menantang matahari, hujan dan kelembapan. Imbas terkini adanya trend desain minimalis. Wuidih…….! Desain yang berakar dari Zen Budhisme ini disalah artikan di Indonesia. Beban berat bagi bangunan itu untuk melawan alam tropis Indonesia.
Manusia, khususnya yang berada dalam taraf mampu, mengalami ketergantungan yang amat sangat terhadap AC. Sehingga rumah atau bangunan dengan fungsi publik seperti kantor, museum, mall, dan lain – lain dibangun dengan begitu sombongnya terhadap alam. Desain sangat berani bertubrukan dengan panas dan hujan sehingga akibat yang dirasakan adalah tagihan listrik meningkat. Alam, tanpa kita sadari memiliki energi perusak yang lebih besar dari manusia loh…! Kita, tanpa sadar menggerogoti keseimbangan terhadap alam.
AC memang menghasilkan udara sejuk didalam ruang, tapi mesin pendingin udara juga menghasilkan panas akibat energi yang terbuang. Panas tersebut ditampung di lingkungan sekitar dan menyebabkan panas mikro di sekitar mesin ac. Itu baru di satu mesin pendingin udara. Bayangkan rata – rata satu rumah memiliki tiga pendingin udara. Kita makrokan lagi, dikawasan perumahan tersebut terdapat seribu rumah yang memakai tiga pendingin udara. Berarti ada tiga ribu mesin pendingin udara yang aktif. Kemudian di kawasan tersebut terdapat empat kawasan perumahan, berarti ada dua belas ribu mesin pendingin udara aktif yang kesemuanya selain menyumbangkan kesejukan udara bagi ruang didalam rumah juga menyumbangkan panas bagi lingkungan sekitar. Itu belum termasuk kawasan perkantoran di Sudirman dan Thamrin dan masih banyak lagi kawasan bisnis di Jakarta yang amat sangat tergantung oleh AC. Itu belum kita kalkulasikan dengan keseluruhan bangunan di Jakarta yang memakai AC, itu juga belum daerah – daerah lain seperti Bandung, semarang, Surabaya, Sidoarjo, Klaten, Sragen, New York, Dubai, dan kota – kota yang lain. Berarti kita tidak boleh mengeluh kenapa udara Jakarta bertambah panas kan? Lepas dari isu pemanasan global, yah kita – kita juga sebagai arsitek menyumbangkan panas karena desain kita yang sombong.
Jadi secara langsung mesin AC juga menjadi penyumbang panas langsung secara makro bagi Jakarta, karena manusia lebih memilih teknologi yang tidak dapat dipungkiri sangat mensejahterakan manusia bernama AC, daripada desain yang tepat untuk menangkal ganasnya sinar matahari iklim tropis yang lepas dari ketergantungan energi.
Coba kita berpikir jauh kedepan. Apabila energi habis, pendingin udara pasti tidak akan ada gunanya. Apa kabar bangunan yang menantang alam tadi? Pasti tidak akan ada yang menghuni karena tidak ada pendingin udara lagi di dunia ini yang bisa dipakai, atau mungkin bangunan itu akan dibongkar untuk menyesuaikan dengan iklim tropis setempat? Kemudian bagaimana dengan bangunan yang tanggap iklim? Pastinya penghuninya tenang – tenang saja karena kenyaman suhu didalam ruang telah dia dapatkan tanpa bantuan pendingin udara.
Saya sangat setuju dengan pernyataan Bapak Ridwan Kamil, dan misi luhur Bapak Adi Purnomo. Kita harus rela berkeringat, rela berpanas – panasan, rela mandi dua kali atau bahkan tiga kali sehari untuk menghilangkan gerah.Ya karena kita hidup didaerah tropis. Selain untuk menghemat tagihan listrik karena pemakaian AC ya juga untuk memikirkan bagaimana desain yang baik bagi iklim tropis Indonesia dengan merasakan berpanas – panasan sebagai tanggung jawab kita sebagai arsitek iklim tropis, disamping juga ikut menambah area hijau pada pekarangan rumah kita tentunya. Saya mengutip dari Alvar Alto “wir brauchen die nature, die nature braucht uns nicht” (kita memerlukan alam tetapi alam tidak bergantung kepada kita). Semoga bisa menjadi tambahan pemikiran, bukan tambahan keluh kesah karena udara yang semakin hari semakin panas. Gerah ah…ngipas dulu….!
Tapi tidak sadarkah kita? Kenyaman ruang yang kita dapat dengan sangat cepat dari AC ternyata menjauhkan kita dari realitas bahwa kita memang hidup di daerah tropis? Dampaknya pada desain arsitektur adalah terbentuk desain – desain yang berani menantang matahari, hujan dan kelembapan. Imbas terkini adanya trend desain minimalis. Wuidih…….! Desain yang berakar dari Zen Budhisme ini disalah artikan di Indonesia. Beban berat bagi bangunan itu untuk melawan alam tropis Indonesia.
Manusia, khususnya yang berada dalam taraf mampu, mengalami ketergantungan yang amat sangat terhadap AC. Sehingga rumah atau bangunan dengan fungsi publik seperti kantor, museum, mall, dan lain – lain dibangun dengan begitu sombongnya terhadap alam. Desain sangat berani bertubrukan dengan panas dan hujan sehingga akibat yang dirasakan adalah tagihan listrik meningkat. Alam, tanpa kita sadari memiliki energi perusak yang lebih besar dari manusia loh…! Kita, tanpa sadar menggerogoti keseimbangan terhadap alam.
AC memang menghasilkan udara sejuk didalam ruang, tapi mesin pendingin udara juga menghasilkan panas akibat energi yang terbuang. Panas tersebut ditampung di lingkungan sekitar dan menyebabkan panas mikro di sekitar mesin ac. Itu baru di satu mesin pendingin udara. Bayangkan rata – rata satu rumah memiliki tiga pendingin udara. Kita makrokan lagi, dikawasan perumahan tersebut terdapat seribu rumah yang memakai tiga pendingin udara. Berarti ada tiga ribu mesin pendingin udara yang aktif. Kemudian di kawasan tersebut terdapat empat kawasan perumahan, berarti ada dua belas ribu mesin pendingin udara aktif yang kesemuanya selain menyumbangkan kesejukan udara bagi ruang didalam rumah juga menyumbangkan panas bagi lingkungan sekitar. Itu belum termasuk kawasan perkantoran di Sudirman dan Thamrin dan masih banyak lagi kawasan bisnis di Jakarta yang amat sangat tergantung oleh AC. Itu belum kita kalkulasikan dengan keseluruhan bangunan di Jakarta yang memakai AC, itu juga belum daerah – daerah lain seperti Bandung, semarang, Surabaya, Sidoarjo, Klaten, Sragen, New York, Dubai, dan kota – kota yang lain. Berarti kita tidak boleh mengeluh kenapa udara Jakarta bertambah panas kan? Lepas dari isu pemanasan global, yah kita – kita juga sebagai arsitek menyumbangkan panas karena desain kita yang sombong.
Jadi secara langsung mesin AC juga menjadi penyumbang panas langsung secara makro bagi Jakarta, karena manusia lebih memilih teknologi yang tidak dapat dipungkiri sangat mensejahterakan manusia bernama AC, daripada desain yang tepat untuk menangkal ganasnya sinar matahari iklim tropis yang lepas dari ketergantungan energi.
Coba kita berpikir jauh kedepan. Apabila energi habis, pendingin udara pasti tidak akan ada gunanya. Apa kabar bangunan yang menantang alam tadi? Pasti tidak akan ada yang menghuni karena tidak ada pendingin udara lagi di dunia ini yang bisa dipakai, atau mungkin bangunan itu akan dibongkar untuk menyesuaikan dengan iklim tropis setempat? Kemudian bagaimana dengan bangunan yang tanggap iklim? Pastinya penghuninya tenang – tenang saja karena kenyaman suhu didalam ruang telah dia dapatkan tanpa bantuan pendingin udara.
Saya sangat setuju dengan pernyataan Bapak Ridwan Kamil, dan misi luhur Bapak Adi Purnomo. Kita harus rela berkeringat, rela berpanas – panasan, rela mandi dua kali atau bahkan tiga kali sehari untuk menghilangkan gerah.Ya karena kita hidup didaerah tropis. Selain untuk menghemat tagihan listrik karena pemakaian AC ya juga untuk memikirkan bagaimana desain yang baik bagi iklim tropis Indonesia dengan merasakan berpanas – panasan sebagai tanggung jawab kita sebagai arsitek iklim tropis, disamping juga ikut menambah area hijau pada pekarangan rumah kita tentunya. Saya mengutip dari Alvar Alto “wir brauchen die nature, die nature braucht uns nicht” (kita memerlukan alam tetapi alam tidak bergantung kepada kita). Semoga bisa menjadi tambahan pemikiran, bukan tambahan keluh kesah karena udara yang semakin hari semakin panas. Gerah ah…ngipas dulu….!
Monday, October 20, 2008
Monday, October 13, 2008
In - Telek
Intelektual mungkin sebuah ungkapan sakral tentang kecerdasan seorang individu atau juga dibarengi dengan tambahan kata kaum untuk menjelaskan bahwa jumlahnya tidak hanya satu. Tapi makna yang saya dapat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia mempunyai penilaian konteks yang berat ke arah positif. Sedangkan makna itu juga terdengar dalam pemberitaan tentang ”siapakah aktor intelektual pada peristiwa mei 98?” yang saya dengar dan lihat pada tayangan berita di liputan 6. Sehingga makna intelektual tertarik lagi ke arah negatif.
Tertarik saya pada pendapat To Thi Anh yang saya kutip dari bukunya ”Budaya Timur dan Barat, Konflik atau Harmoni?”:
Kaum intelek atau kaum borjuis mungkin berpikir lebih baik makan nasi dan garam saja tetapi dapat menyanyi dan tertawa daripada makan steak dan daging ayam tetapi harus tertekan oleh berbagai macam persoalan, hidup dalam terowongan tambang, pabrik dan jadi robot. Memang kaum borjuis mungkin berpikir begitu, tetapi mereka yang miskin belum. Mereka ingin mengalami, merasakan apa yang nampaknya merupakan perwujudan banyak mimpi, apapun akibatnya nanti.
Dimana kita lihat kaum intelek terbentuk bukan dari masyarakat kelas ke tiga, dimana mungkin mereka telah merasakan kesenangan dunia yang ternyata bukan jadi tujuan hidup. Tetapi kebahagiaan dalam bentuk yang lain. Nyanyi dan tawa. Ada contoh yang bisa saya beri. Chairil Anwar. Dalam buku Hari – Hari Akhir Si Penyair karangan Nasjah Djamin dapat saya simpulkan. Sang penyair yang lebih memilih hidup menggelandang meminjam uang pada Baharudin M.S. pelukis yang menjadi kepala bagian tipografi di Balai Pustaka daripada menjadi redaktur sebuah majalah. Yang pada akhirnya dia berpulang dikarenakan penyakit disentri saya kira. Dikarenakan pola hidup yang berantakan. Tetapi dia menjalani hidup penuh dengan tawa, ceria disamping kesibukannya membuat sajak. Itu pilihan hidup.
Tetapi bukan berarti secara general kita menghakimi kaum intelek seperti itu mungkin. Mahatma Gandhi lebih memilih jalan damai dalam memperjuangkan kemerdekaan di India bukan? Dan ia saya kira juga merupakan kalangan atas india karena dia pernah menjadi mahasiswa dan menemukan ketimpangan pada bangsanya yang terjajah. Sama seperti tokoh minke yang diambil dari kehidupan Tirto Adisuryo karangan Pramoedya Anantha Toer dalam Tetralogi Burunya dan mungkin juga Bung Karno.
Tanggung jawab terhadap kaum miskin bagi kaum intelektual? Itu bukan total tanggung jawab kaum intelek. Mungkin semua. Karena mereka mengerubungi kita seperti lalat. Dari muda sampai tua. Lagipula kaum miskin tidak hanya kaum miskin kota seperti yang dikumandangkan pada demonstrasi. Mereka bergentayangan dari sabang sampai merauke. Bisa jadi sampai ke laut dalam yang hampir lepas.
Sebutan intelektual terdengar renyah ditelinga. Membuat kita terlena dan hampir mengudara. Padahal dibalik sebutan indah itu beban begitu nanar dan meronta minta ratu adil datang. Tapi yang pasti tidak semua bisa disebut intelektual walaupun kita berada didalam kubangan mahasiswa yang saya pikir lebih pantas disebut pelajar. Karena pilihan hidup begitu banyak rupanya. Tinggal memilih yang mana.
Intelektual. Begitu manis.
Tapi berbau seperti telek, bila disalah guna.
Tertarik saya pada pendapat To Thi Anh yang saya kutip dari bukunya ”Budaya Timur dan Barat, Konflik atau Harmoni?”:
Kaum intelek atau kaum borjuis mungkin berpikir lebih baik makan nasi dan garam saja tetapi dapat menyanyi dan tertawa daripada makan steak dan daging ayam tetapi harus tertekan oleh berbagai macam persoalan, hidup dalam terowongan tambang, pabrik dan jadi robot. Memang kaum borjuis mungkin berpikir begitu, tetapi mereka yang miskin belum. Mereka ingin mengalami, merasakan apa yang nampaknya merupakan perwujudan banyak mimpi, apapun akibatnya nanti.
Dimana kita lihat kaum intelek terbentuk bukan dari masyarakat kelas ke tiga, dimana mungkin mereka telah merasakan kesenangan dunia yang ternyata bukan jadi tujuan hidup. Tetapi kebahagiaan dalam bentuk yang lain. Nyanyi dan tawa. Ada contoh yang bisa saya beri. Chairil Anwar. Dalam buku Hari – Hari Akhir Si Penyair karangan Nasjah Djamin dapat saya simpulkan. Sang penyair yang lebih memilih hidup menggelandang meminjam uang pada Baharudin M.S. pelukis yang menjadi kepala bagian tipografi di Balai Pustaka daripada menjadi redaktur sebuah majalah. Yang pada akhirnya dia berpulang dikarenakan penyakit disentri saya kira. Dikarenakan pola hidup yang berantakan. Tetapi dia menjalani hidup penuh dengan tawa, ceria disamping kesibukannya membuat sajak. Itu pilihan hidup.
Tetapi bukan berarti secara general kita menghakimi kaum intelek seperti itu mungkin. Mahatma Gandhi lebih memilih jalan damai dalam memperjuangkan kemerdekaan di India bukan? Dan ia saya kira juga merupakan kalangan atas india karena dia pernah menjadi mahasiswa dan menemukan ketimpangan pada bangsanya yang terjajah. Sama seperti tokoh minke yang diambil dari kehidupan Tirto Adisuryo karangan Pramoedya Anantha Toer dalam Tetralogi Burunya dan mungkin juga Bung Karno.
Tanggung jawab terhadap kaum miskin bagi kaum intelektual? Itu bukan total tanggung jawab kaum intelek. Mungkin semua. Karena mereka mengerubungi kita seperti lalat. Dari muda sampai tua. Lagipula kaum miskin tidak hanya kaum miskin kota seperti yang dikumandangkan pada demonstrasi. Mereka bergentayangan dari sabang sampai merauke. Bisa jadi sampai ke laut dalam yang hampir lepas.
Sebutan intelektual terdengar renyah ditelinga. Membuat kita terlena dan hampir mengudara. Padahal dibalik sebutan indah itu beban begitu nanar dan meronta minta ratu adil datang. Tapi yang pasti tidak semua bisa disebut intelektual walaupun kita berada didalam kubangan mahasiswa yang saya pikir lebih pantas disebut pelajar. Karena pilihan hidup begitu banyak rupanya. Tinggal memilih yang mana.
Intelektual. Begitu manis.
Tapi berbau seperti telek, bila disalah guna.
Thursday, September 25, 2008
Kupu – Kupu Metamorfosa Hinggap di Kolong Jembatan
Pada tanggal 25 juli 2008 sampai dengan 27 juli 2008 merupakan hari puncak kelelahan maksimum mahasiswa Arsitektur Universitas Trisakti. Hari itu merupakan pembuktian ide kreatif mahasiswa kepada masyarakat akan alternatif ruang publik yang dibutuhkan Jakarta, yang dirasa sangat mendesak. Jakarta terlalu diserbu oleh bangunan – bangunan komersil yang menghilangkan ruang bermain dan berinteraksi masyarakat kota. Metamorfosa berusaha untuk menjadi embrio untuk memberi wacana kepada masyarakat bahwa pasti ada ruang kota yang dapat dimanfaat selain hanya berupa taman dan tanah lapang.
Awalnya memang hajatan ini mau digelar di Taman Menteng yang bekas berdirinya Stadion Menteng, tapi setelah dipikir – pikir lagi ternyata enggak asik ngadain acara ditempat yang sudah bagus dan berfungsi sebagai ruang publik. Jiwa muda kami berontak. Mana tantangannya? Selain itu kita juga menghormati para penggila bola di Jakarta yang marah karena stadion bersejarah ini dirubah menjadi taman, khususnya pada Kurniawan Dwi Yulianto, Bima Sakti, dan Ponaryo Astaman kapten kesebelasan Indonesia sekarang. Membangun ruang publik kan tidak harus mengorbankan sejarah. Bener ga?
Setelah kami berpikir, ngelamun, dan pegal karena sambil jongkok berjejer memikirkan Jakarta akhirnya keluarlah ide tentang kolong jembatan. Kenapa kolong jembatan? Semua berawal dari keberadaan flyover di Jakarta. Nah gini nih ceritanya, baca terus ya!
“Fly over dipergunakan untuk mengurangi kemacetan dengan menaikkan jalan ke atas, biasanya berada diperempatan jalan atau jalan – jalan utama tetapi dengan lebar yang tidak mencukupi untuk diakses begitu banyak kendaraan sehingga terjadi kemacetan (contoh paling gres fly over didepan ITC Roxy). Akan tetapi ada yang tidak diperhatikan dan tanpa kita sadari menjadi ruang percuma, padahal hampir setiap hari kita melintasi dan menyisiri fly over. Ruang tersebut memiliki potensi karena berada ditengah kota sehingga nilai (values) dari ruang tersebut sangat tinggi dan dapat dikembangkan, akan tetapi ruang ini seringkali berkonotasi negatif. Kolong jembatan.
Kolong jembatan di Jakarta banyak dipergunakan oleh penduduk pendatang dari luar ibukota sebagai pemukiman kumuh ilegal seperti kita lihat di bawah jalan tol menuju ke arah bandara Soekarno-Hatta dan Mangga Dua. Selain itu kolong jembatan juga sering dijadikan tempat pedagang kaki lima berjualan karena teduh (jalan diatas berfungsi sebagai atap) dan seringkali berada di dekat pusat keramaian, bahkan tidak jarang menjadi tempat hiburan bagi masyarakat kelas bawah (pagelaran dangdut dengan menggunakan soundsystem yang berada di mobil boks kemudian penyanyi perempuan bernyanyi sambil berjoget, sering terjadi di bawah fly over depan ITC Roxy pada larut malam ketika jalan sudah sepi).
kami mengambil contoh fly over di daerah Tomang dekat Mall Taman Anggrek. Fly over tersebut berada di perempatan yang besar, dilalui Busway dan merupakan pintu akses tol menuju Tangerang dan pulau Sumatera. Fly over tersebut memiliki lebar jalan kurang lebih 35 m (ukuran berdasarkan pengamatan visual, sehingga tidak akurat) dengan struktur berbahan beton. Kota Jakarta telah kehilang ruang 525 m² (dianggap jarak dari kolom ke kolom fly over tersebut 15m) yang memiliki potensi untuk dikembangkan. Kenapa berpotensi? Karena letaknya yang berada ditengah kota dan ruang yang cukup luas tersebut hanya difungsikan sebagai ruang transisi. Apabila kita jumlahkan ruang – ruang dibawah fly over Jakarta secara keseluruhan, berapa besar Jakarta telah kehilangan ruang yang berpotensi?
Potensi ruang di kolong jembatan tersebut bisa dikembangkan seperti dengan memfasilitasi kegiatan yang sudah tumbuh di kolong jembatan tersebut yang dulunya ilegal menjadi legal, tentunya dengan kebijaksanaan yang dikeluarkan oleh pemerintah yang mendukung kalangan menengah kebawah dengan tetap mendukung kreatifitas perancang. Penyerahan ruang kota tersebut untuk diolah bagi masyarakat kalangan menengah kebawah adalah karena kawasan tersebut telah dimanfaatkan dengan baik oleh masyarakat menengah kebawah. Kenapa bisa disebut baik disini? Karena masyarakat menengah kebawah selaku penghuni kota telah memanfaatkan ruang yang serba terbatas tersebut (tidak hanya kolong jembatan) dengan menaikkan nilai lahan itu sendiri dengan melihat potensi ekonomi yang ada di ruang kota, padahal mereka sendiri memiliki keterbatasan, seperti biaya, tidak adanya perizinan yang sah, dan lain sebagainya, yang sebenarnya dibutuhkan bukanlah sebuah pengusiran atau penggusuran, tapi sebuah penataan yang baik dan sehat. Walaupun masyarakat menengah bawah memanfaatkan ruang tersebut, tidak menutup kemungkinan untuk dimasuki oleh seluruh penghuni kota, dalam hal ini menjadi ruang publik kota. Selain itu pemerintah juga memperoleh keuntungan dengan dimanfaatkannya tanah negara yang dapat digolongkan ruang sisa sebagai pemasukan daerah karena dimanfaatkan untuk kegiatan ekonomi. Akan tetapi memang perlu dikaji kembali secara lebih mendalam tentang hal tersebut.
Secara teori ada tiga cara perkembangan kota, yaitu : horizontal, vertikal, dan interstisial. Yang akan kami soroti adalah perkembangan secara interstisial, Interstisial adalah perkembangan kota yang perkembangannya dilangsungkan ke dalam. Artinya, daerah dan ketinggian bangunan – bangunan rata – rata sama, sedangkan kuantitas lahan terbangun (coverage) bertambah. Secara analogi apabila ada dua bangunan yang diapit ruang terbuka, dikarenakan sudah tidak ada lagi ruang untuk membangun maka ruang terbuka tersebut dibangun bangunan baru atau disisipkan diantara dua bangunan. Pada beberapa daerah kota Jakarta yang padat, sudah harus diterapkan cara perkembangan kota secara interstisial. Akan tetapi yang disisipkan bukan bangunan tetapi ruang publik baru karena kawasan tersebut terlalu sesak dengan bangunan. Hal ini disebabkan karena banyaknya bangunan yang terbangun dan perlu disisipkan ruang – ruang publik diantara bangunan tersebut untuk manusia yang berada disekitar kawasan tersebut.
Ada beberapa faktor yang kami perhatikan menyebabkan kolong jembatan tidak dimaksimalkan fungsinya di Jakarta. Pertama, lingkungan sekitar yang tidak mendukung untuk menikmati ruang tersebut. Dengan banyaknya kendaraan yang melewati jalan tersebut, terutama di lampu merah menyebabkan menumpuknya polusi disekitar kolong jembatan tersebut sehingga kurang nyaman dan sehat. Hal ini menyebabkan ruang tersebut tidak diperhatikan dan dihindari oleh penduduk kota. Kedua, linkage ke kolong jembatan tersebut yang hanya berupa zebra cross sehingga untuk mencapai ke dalam kolong jembatan dibutuhkan pengorbanan melewati jalur kuda besi yang cukup lebar.”
Nah setelah membaca pemaparan tersebut kami punya dasar yang kuat untuk mengadakan acara di bawah kolong jembatan. Karena tidak jauh dari permasalahan kota yang sedang terjadi di Jakarta. Setelah mengalami perdebatan internal yang alot tentang konsep acara dan keterbatasan – keterbatasan yang menghambat, serta bongkar pasang panitia. Biasa….! Namanya juga mahasiswa. Akhirnya acara berjalan juga. Setelah urusan sponsor selesai, alat dan bahan sudah terkumpul, saatnya dimulai dekorasi, bagian terindah dari proses acara ini. Ngecat beres, teriak sana teriak sini, instalasi selesai, tidur sana tidur sini, keramik dipasang, marah sana marah sini, pinjem instalasi sana – sini, ketawa kesana ketawa kesini. Jeng…jeng…!!! Lapor komandan…acara siap dilaksanakan….terserah lo - lo pada bagian acara mau ngapain…kita – kita tidur dulu…kalo butuh bantuan bangunin aja…laporan diselesaikan…zzzz…zzzz…zzzz…..
Tim acara bergerak, berbondong – bonding kalangan akademisi, praktisi, pemerintahan dan seniman diundang untuk memberikan sudut pandang masing – masing. Mereka diantaranya antara lain Prof. Ir. M. Danisworo. M.Arch.,MUP.,Ph.D, Ir. Ahmad D. Tardiyana,MUDD, Ir. Nirwono Joga, M.LA., Iwan Kurniawan, ST, MT, Gregorius Supie Yolodie, Hari Dagoe, Ir. Adhi Moersid,IAI, Yulianti Tanyadji, ST, MSc. Tema – tema seminar dan diskusi yang diangkat pada acara Metamorfosa ini tidak lari dari angan – angan akan Jakarta yang memiliki ruang publik cantik, indah, dan dapat dimiliki oleh semua warganya. Pada hari pertama acara Metamorfosa adalah seminar yang diadakan di auditorium kampus, disamping pameran yang telah diadakan di kolong jembatan, tema yang yang diangkat pada seminar adalah ”definisi ruang publik” membahas mengenai definisi yang lebih mendalam, esensi dan solusi mengenai ruang publik. Pada hari kedua dan ketiga acara talkshow diadakan dibawah kolong jembatan. Tema talkshow yang diangkat pada hari kedua adalah ”Memanusiakan Ruang Publik”, yang membicarakan bagaimana merancang ruang publik dengan manusia sebagai subjek yang diprioritaskan, sehingga esensi dari ruang publik tersebut dapat tercapai secara optimal. Sedangkan pada talkshow yang ketiga tema yang diangkat adalah “Masa Depan Ruang Publik” mempertanyakan bagaimanakah seharusnya ruang publik (di Jakarta khususnya) pada masa depan. Ditinjau dari perkembangan arsitektur di dunia yang semakin pesat dalam hal pendekatan design, struktur, maupun material.
Disamping gubernur, camat, anggota DPR, rektor, dekan, dosen, mahasiswa dari kampus lain, masyarakat umum, wartawan dan tukang airbrush, pada acara ini juga kami mengundang pedagang kaki lima (tukang teh, tukang gorengan, gerobak soto, jus, dll) untuk ikut berpartisipasi pada acara kami dengan berjualan pada area yang telah disediakan,gratis…..Yah… semoga bisa ikut membantu perekonomian pedagang sekitar, jadi ni acara ga hanya menang gaya doang tapi juga ikut nolongin orang. Selain itu kita juga ingin memberi alternatif pada bapak – bapak dan ibu – ibu (logat AA Gym kalo ceramah) yang memiliki kekuatan politik bahwa kolong jembatan bisa dipake dagang kok, disamping hanya menjadi area parkir doang. Sapa tau kan nanti ada glodok baru di kolong jembatan S.parman.
Ada yang menarik ketika acara sedang berlangsung. Ternyata kolong jembatan tempat kami mengadakan acara metamorfosa sering dipergunakan oleh sebuah yayasan sosial bernama Sahabat Anak Grogol untuk memberikan bimbingan belajar kepada warga kolong disekitar. Pendidikan yang diberikan berupa baca tulis serta menghitung, dan yang memperoleh pelajaran tidak hanya anak kecil tetapi juga orang tua yang mau belajar. Adanya kegiatan belajar mengajar di bawah kolong jembatan ini memberikan pemahaman baru bagi kami bahwa ternyata kolong jembatan bisa menjadi apa saja, walaupun saat ini semua kegiatan dibawah kolong jembatan ini terjadi karena terpaksa.
Keberhasilan acara ini bisa disebut belum sepenuhnya berhasil, walaupun target untuk menjadikan hal ini sebagai wacana di masyarakat dan terpublikasikannya acara ini keluar kampus melebihi ekspetasi yang kita kira. Kenapa? Karena acara yang kita buat hanya sementara dan wacana yang terjadi dalam masyarakat bisa digantikan oleh wacana yang lain, dan sampai saat ini ternyata kolong jembatan tetap belum bisa menjadi apa – apa. Kolong jembatan tetap menjadi tempat yang gelap, tidak menarik, dan cenderung dijauhi oleh mayoritas masyarakat perkotaan. Sehingga memunculkan pertanyaan baru. Kapan kolong jembatan di Jakarta bisa menjadi ruang publik yang sebenarnya diharapkan oleh warga Jakarta sebagai alternatif taman kota? Semoga kita bisa menjawabnya bersama – sama.
tulisan ini dimuat di free magazine G-Magz #2
Awalnya memang hajatan ini mau digelar di Taman Menteng yang bekas berdirinya Stadion Menteng, tapi setelah dipikir – pikir lagi ternyata enggak asik ngadain acara ditempat yang sudah bagus dan berfungsi sebagai ruang publik. Jiwa muda kami berontak. Mana tantangannya? Selain itu kita juga menghormati para penggila bola di Jakarta yang marah karena stadion bersejarah ini dirubah menjadi taman, khususnya pada Kurniawan Dwi Yulianto, Bima Sakti, dan Ponaryo Astaman kapten kesebelasan Indonesia sekarang. Membangun ruang publik kan tidak harus mengorbankan sejarah. Bener ga?
Setelah kami berpikir, ngelamun, dan pegal karena sambil jongkok berjejer memikirkan Jakarta akhirnya keluarlah ide tentang kolong jembatan. Kenapa kolong jembatan? Semua berawal dari keberadaan flyover di Jakarta. Nah gini nih ceritanya, baca terus ya!
“Fly over dipergunakan untuk mengurangi kemacetan dengan menaikkan jalan ke atas, biasanya berada diperempatan jalan atau jalan – jalan utama tetapi dengan lebar yang tidak mencukupi untuk diakses begitu banyak kendaraan sehingga terjadi kemacetan (contoh paling gres fly over didepan ITC Roxy). Akan tetapi ada yang tidak diperhatikan dan tanpa kita sadari menjadi ruang percuma, padahal hampir setiap hari kita melintasi dan menyisiri fly over. Ruang tersebut memiliki potensi karena berada ditengah kota sehingga nilai (values) dari ruang tersebut sangat tinggi dan dapat dikembangkan, akan tetapi ruang ini seringkali berkonotasi negatif. Kolong jembatan.
Kolong jembatan di Jakarta banyak dipergunakan oleh penduduk pendatang dari luar ibukota sebagai pemukiman kumuh ilegal seperti kita lihat di bawah jalan tol menuju ke arah bandara Soekarno-Hatta dan Mangga Dua. Selain itu kolong jembatan juga sering dijadikan tempat pedagang kaki lima berjualan karena teduh (jalan diatas berfungsi sebagai atap) dan seringkali berada di dekat pusat keramaian, bahkan tidak jarang menjadi tempat hiburan bagi masyarakat kelas bawah (pagelaran dangdut dengan menggunakan soundsystem yang berada di mobil boks kemudian penyanyi perempuan bernyanyi sambil berjoget, sering terjadi di bawah fly over depan ITC Roxy pada larut malam ketika jalan sudah sepi).
kami mengambil contoh fly over di daerah Tomang dekat Mall Taman Anggrek. Fly over tersebut berada di perempatan yang besar, dilalui Busway dan merupakan pintu akses tol menuju Tangerang dan pulau Sumatera. Fly over tersebut memiliki lebar jalan kurang lebih 35 m (ukuran berdasarkan pengamatan visual, sehingga tidak akurat) dengan struktur berbahan beton. Kota Jakarta telah kehilang ruang 525 m² (dianggap jarak dari kolom ke kolom fly over tersebut 15m) yang memiliki potensi untuk dikembangkan. Kenapa berpotensi? Karena letaknya yang berada ditengah kota dan ruang yang cukup luas tersebut hanya difungsikan sebagai ruang transisi. Apabila kita jumlahkan ruang – ruang dibawah fly over Jakarta secara keseluruhan, berapa besar Jakarta telah kehilangan ruang yang berpotensi?
Potensi ruang di kolong jembatan tersebut bisa dikembangkan seperti dengan memfasilitasi kegiatan yang sudah tumbuh di kolong jembatan tersebut yang dulunya ilegal menjadi legal, tentunya dengan kebijaksanaan yang dikeluarkan oleh pemerintah yang mendukung kalangan menengah kebawah dengan tetap mendukung kreatifitas perancang. Penyerahan ruang kota tersebut untuk diolah bagi masyarakat kalangan menengah kebawah adalah karena kawasan tersebut telah dimanfaatkan dengan baik oleh masyarakat menengah kebawah. Kenapa bisa disebut baik disini? Karena masyarakat menengah kebawah selaku penghuni kota telah memanfaatkan ruang yang serba terbatas tersebut (tidak hanya kolong jembatan) dengan menaikkan nilai lahan itu sendiri dengan melihat potensi ekonomi yang ada di ruang kota, padahal mereka sendiri memiliki keterbatasan, seperti biaya, tidak adanya perizinan yang sah, dan lain sebagainya, yang sebenarnya dibutuhkan bukanlah sebuah pengusiran atau penggusuran, tapi sebuah penataan yang baik dan sehat. Walaupun masyarakat menengah bawah memanfaatkan ruang tersebut, tidak menutup kemungkinan untuk dimasuki oleh seluruh penghuni kota, dalam hal ini menjadi ruang publik kota. Selain itu pemerintah juga memperoleh keuntungan dengan dimanfaatkannya tanah negara yang dapat digolongkan ruang sisa sebagai pemasukan daerah karena dimanfaatkan untuk kegiatan ekonomi. Akan tetapi memang perlu dikaji kembali secara lebih mendalam tentang hal tersebut.
Secara teori ada tiga cara perkembangan kota, yaitu : horizontal, vertikal, dan interstisial. Yang akan kami soroti adalah perkembangan secara interstisial, Interstisial adalah perkembangan kota yang perkembangannya dilangsungkan ke dalam. Artinya, daerah dan ketinggian bangunan – bangunan rata – rata sama, sedangkan kuantitas lahan terbangun (coverage) bertambah. Secara analogi apabila ada dua bangunan yang diapit ruang terbuka, dikarenakan sudah tidak ada lagi ruang untuk membangun maka ruang terbuka tersebut dibangun bangunan baru atau disisipkan diantara dua bangunan. Pada beberapa daerah kota Jakarta yang padat, sudah harus diterapkan cara perkembangan kota secara interstisial. Akan tetapi yang disisipkan bukan bangunan tetapi ruang publik baru karena kawasan tersebut terlalu sesak dengan bangunan. Hal ini disebabkan karena banyaknya bangunan yang terbangun dan perlu disisipkan ruang – ruang publik diantara bangunan tersebut untuk manusia yang berada disekitar kawasan tersebut.
Ada beberapa faktor yang kami perhatikan menyebabkan kolong jembatan tidak dimaksimalkan fungsinya di Jakarta. Pertama, lingkungan sekitar yang tidak mendukung untuk menikmati ruang tersebut. Dengan banyaknya kendaraan yang melewati jalan tersebut, terutama di lampu merah menyebabkan menumpuknya polusi disekitar kolong jembatan tersebut sehingga kurang nyaman dan sehat. Hal ini menyebabkan ruang tersebut tidak diperhatikan dan dihindari oleh penduduk kota. Kedua, linkage ke kolong jembatan tersebut yang hanya berupa zebra cross sehingga untuk mencapai ke dalam kolong jembatan dibutuhkan pengorbanan melewati jalur kuda besi yang cukup lebar.”
Nah setelah membaca pemaparan tersebut kami punya dasar yang kuat untuk mengadakan acara di bawah kolong jembatan. Karena tidak jauh dari permasalahan kota yang sedang terjadi di Jakarta. Setelah mengalami perdebatan internal yang alot tentang konsep acara dan keterbatasan – keterbatasan yang menghambat, serta bongkar pasang panitia. Biasa….! Namanya juga mahasiswa. Akhirnya acara berjalan juga. Setelah urusan sponsor selesai, alat dan bahan sudah terkumpul, saatnya dimulai dekorasi, bagian terindah dari proses acara ini. Ngecat beres, teriak sana teriak sini, instalasi selesai, tidur sana tidur sini, keramik dipasang, marah sana marah sini, pinjem instalasi sana – sini, ketawa kesana ketawa kesini. Jeng…jeng…!!! Lapor komandan…acara siap dilaksanakan….terserah lo - lo pada bagian acara mau ngapain…kita – kita tidur dulu…kalo butuh bantuan bangunin aja…laporan diselesaikan…zzzz…zzzz…zzzz…..
Tim acara bergerak, berbondong – bonding kalangan akademisi, praktisi, pemerintahan dan seniman diundang untuk memberikan sudut pandang masing – masing. Mereka diantaranya antara lain Prof. Ir. M. Danisworo. M.Arch.,MUP.,Ph.D, Ir. Ahmad D. Tardiyana,MUDD, Ir. Nirwono Joga, M.LA., Iwan Kurniawan, ST, MT, Gregorius Supie Yolodie, Hari Dagoe, Ir. Adhi Moersid,IAI, Yulianti Tanyadji, ST, MSc. Tema – tema seminar dan diskusi yang diangkat pada acara Metamorfosa ini tidak lari dari angan – angan akan Jakarta yang memiliki ruang publik cantik, indah, dan dapat dimiliki oleh semua warganya. Pada hari pertama acara Metamorfosa adalah seminar yang diadakan di auditorium kampus, disamping pameran yang telah diadakan di kolong jembatan, tema yang yang diangkat pada seminar adalah ”definisi ruang publik” membahas mengenai definisi yang lebih mendalam, esensi dan solusi mengenai ruang publik. Pada hari kedua dan ketiga acara talkshow diadakan dibawah kolong jembatan. Tema talkshow yang diangkat pada hari kedua adalah ”Memanusiakan Ruang Publik”, yang membicarakan bagaimana merancang ruang publik dengan manusia sebagai subjek yang diprioritaskan, sehingga esensi dari ruang publik tersebut dapat tercapai secara optimal. Sedangkan pada talkshow yang ketiga tema yang diangkat adalah “Masa Depan Ruang Publik” mempertanyakan bagaimanakah seharusnya ruang publik (di Jakarta khususnya) pada masa depan. Ditinjau dari perkembangan arsitektur di dunia yang semakin pesat dalam hal pendekatan design, struktur, maupun material.
Disamping gubernur, camat, anggota DPR, rektor, dekan, dosen, mahasiswa dari kampus lain, masyarakat umum, wartawan dan tukang airbrush, pada acara ini juga kami mengundang pedagang kaki lima (tukang teh, tukang gorengan, gerobak soto, jus, dll) untuk ikut berpartisipasi pada acara kami dengan berjualan pada area yang telah disediakan,gratis…..Yah… semoga bisa ikut membantu perekonomian pedagang sekitar, jadi ni acara ga hanya menang gaya doang tapi juga ikut nolongin orang. Selain itu kita juga ingin memberi alternatif pada bapak – bapak dan ibu – ibu (logat AA Gym kalo ceramah) yang memiliki kekuatan politik bahwa kolong jembatan bisa dipake dagang kok, disamping hanya menjadi area parkir doang. Sapa tau kan nanti ada glodok baru di kolong jembatan S.parman.
Ada yang menarik ketika acara sedang berlangsung. Ternyata kolong jembatan tempat kami mengadakan acara metamorfosa sering dipergunakan oleh sebuah yayasan sosial bernama Sahabat Anak Grogol untuk memberikan bimbingan belajar kepada warga kolong disekitar. Pendidikan yang diberikan berupa baca tulis serta menghitung, dan yang memperoleh pelajaran tidak hanya anak kecil tetapi juga orang tua yang mau belajar. Adanya kegiatan belajar mengajar di bawah kolong jembatan ini memberikan pemahaman baru bagi kami bahwa ternyata kolong jembatan bisa menjadi apa saja, walaupun saat ini semua kegiatan dibawah kolong jembatan ini terjadi karena terpaksa.
Keberhasilan acara ini bisa disebut belum sepenuhnya berhasil, walaupun target untuk menjadikan hal ini sebagai wacana di masyarakat dan terpublikasikannya acara ini keluar kampus melebihi ekspetasi yang kita kira. Kenapa? Karena acara yang kita buat hanya sementara dan wacana yang terjadi dalam masyarakat bisa digantikan oleh wacana yang lain, dan sampai saat ini ternyata kolong jembatan tetap belum bisa menjadi apa – apa. Kolong jembatan tetap menjadi tempat yang gelap, tidak menarik, dan cenderung dijauhi oleh mayoritas masyarakat perkotaan. Sehingga memunculkan pertanyaan baru. Kapan kolong jembatan di Jakarta bisa menjadi ruang publik yang sebenarnya diharapkan oleh warga Jakarta sebagai alternatif taman kota? Semoga kita bisa menjawabnya bersama – sama.
tulisan ini dimuat di free magazine G-Magz #2
Saturday, September 20, 2008
Manusia Wacana
Begitu membludaknya tercipta manusia dengan perilaku gumam. Membludak, hampir seperti volume air laut di jagat. Walaupun hanya sebuah majas hiperbola. Dimana kepala satu bergumam ke kepala satu yang lain atau bahkan ke banyak kepala. Gumam tidak pernah habis. Setiap kepala bergumam. Gumam ini, gumam itu, gumam sana, gumam sini. Gumam hanya terlempar – lempar seperti olah raga bola. Pindah kesana, pindah kesini, melambung kemari. Berebut untuk bergumam. Gumam pun bisa bingung karena kenapa si gumam harus terus bergumam. Itu – itu saja. Dia tidak menghasilkan apa – apa. Tidak merubah skor. Tidak bertemu kemenangan dan tidak berpapasan dengan kekalahan. Siapa kepala – kepala gumam itu? Si A, B, C, D, E, F, G, H, I, J, K, L, M, N, O, P, Q, R, S, T, U, V, W, X, Y, Z? Kita pun tak tahu. Cukup bisa terjawab di hati yang tidak pernah bohong. Itupun masih mungkin.
Mengapa mereka tercipta? Untuk meramaikan dunia barangkali. Menciptakan dunia seimbang. Tapi apabila terlalu banyak hanya kan membuat beku. Dimana kita hanya berputar di dalam gumam kita sendiri dan ke orang lain yang juga seorang penggumam. Dalam wujud wacana. Tiap kepala Cuma bergumam. Menginginkan. Tapi tidak melakukan. Apakah tidak rindu kalian menjodohkan gumam dengan yang lain. Gumam berkekasih dengan tindak. Ketika gumam bersetubuh dengan tindak dia akan membuntingi anak dengan nama hasil. Hasil yang mempunyai nama panjang. Bisa hasil buruk, hasil jelek, hasil gitu, hasil gini, tidak ada hasil, hasil tak sampai, berhasil, dan lain – lain.
Dunia butuh gumam.butuh sebuah wacana. Karena wacana itu membuat kita merasa. Tapi apalah daya. Kita tidak bisa tahu siapa yang menjadi manusia wacana. Apakah kita sudah pantas menjadi manusia wacana? Bisakah kita menolak menjadi manusia wacana? Karena kita bisa melakukan. Tapi tetap terbius dengan wacana, dengan gumam yang bisa saja kita telan sendiri. Tercerna di dalam kata, tapi tersumbat tak keluar. Banyak sekali manusia – manusia yang bisa bertindak. Tapi mereka hanya bergelayutan di akar gantung wacana, yang kuat, kokoh, tak bergerak. Mereka menolak bertindak, ibarat barang najis yang tak mau dipegang. Kotor. Haram. Seperti berteman dengan setan.
Apakah ini hanya akan menjadi sebuah wacana? Lewat begitu saja. Terlupa begini saja. Habis. Karena apabila harus jujur. Inipun hanya sebuah wacana.
Mengapa mereka tercipta? Untuk meramaikan dunia barangkali. Menciptakan dunia seimbang. Tapi apabila terlalu banyak hanya kan membuat beku. Dimana kita hanya berputar di dalam gumam kita sendiri dan ke orang lain yang juga seorang penggumam. Dalam wujud wacana. Tiap kepala Cuma bergumam. Menginginkan. Tapi tidak melakukan. Apakah tidak rindu kalian menjodohkan gumam dengan yang lain. Gumam berkekasih dengan tindak. Ketika gumam bersetubuh dengan tindak dia akan membuntingi anak dengan nama hasil. Hasil yang mempunyai nama panjang. Bisa hasil buruk, hasil jelek, hasil gitu, hasil gini, tidak ada hasil, hasil tak sampai, berhasil, dan lain – lain.
Dunia butuh gumam.butuh sebuah wacana. Karena wacana itu membuat kita merasa. Tapi apalah daya. Kita tidak bisa tahu siapa yang menjadi manusia wacana. Apakah kita sudah pantas menjadi manusia wacana? Bisakah kita menolak menjadi manusia wacana? Karena kita bisa melakukan. Tapi tetap terbius dengan wacana, dengan gumam yang bisa saja kita telan sendiri. Tercerna di dalam kata, tapi tersumbat tak keluar. Banyak sekali manusia – manusia yang bisa bertindak. Tapi mereka hanya bergelayutan di akar gantung wacana, yang kuat, kokoh, tak bergerak. Mereka menolak bertindak, ibarat barang najis yang tak mau dipegang. Kotor. Haram. Seperti berteman dengan setan.
Apakah ini hanya akan menjadi sebuah wacana? Lewat begitu saja. Terlupa begini saja. Habis. Karena apabila harus jujur. Inipun hanya sebuah wacana.
Monday, September 15, 2008
mungkin
Pernahkah teman meresapi arti kata “mungkin” ? mungkin tidak. Suatu kata yang membuat kita anak manusia menggantung tapi tetap berharap. Begitu dalam arti kata itu bila kita resapi. Membuat teman ingin marah, kecewa, tapi bisa jadi bahagia, semua tergantung dari situsi yang terjadi sehingga ada seorang pemimpin diantara teman yang mengeluarkan kata mungkin. Sebuah kata – kata ajaib penuh pengharapan.
Apa kita sebagai manusia disaat sekarang ini membutuhkan kata mungkin? Sebuah kata dengan arti dan makna tak pasti. Bima dalam tokoh pewayangan jawa belum tentu bima bisa jadi arjuna. pandawa lima belum tentu ada lima bila kita tidak terpatok oleh angka lima. Bisa jadi enam sedangkan yang ada diingatan para seniman ataupun budayawan lima. Semua mungkin saja diciptakan oleh orang – orang zaman dulu bukan? mungkin saja bukan? Sekali lagi mungkin. Tak pasti. Kecewa.
Sekali lagi mungkin kata – kata mungkin memiliki arti yang juga mungkin. Apa kita harus terus berputar – putar dengan kemungkinan – kemungkinan? Tidak mengambil tindakan yang berujung pada kepastian. Itu yang mungkin sedang kita hadapi sebagai anak manusia yang lahir di indonesia menurut soekarno, dan auslia menurut tan malaka, dan bisa jadi hindia belanda menurut belanda. Tidak bisakah kita lari dari kata – kata mungkin dengan mengambil langkah pasti? Tidak terus berkutat dengan kata – kata mungkin yang dalam bentuk ilmiah mungkin bisa disebut dengan analisis. Kurasa tidak mungkin. Mungkin kita harus tetap berada di jelaga kemungkinan. Tetapi kita harus cepat keluar dari jelaga penuh lumpur kemungkinan itu bergelut didalamnya sampai kita menemukan sebuah kunci, kunci yaitu kepastian, kepastian tentang apa yang kita pilih dan akan jalani. yang kemudian kita masukkan kedalam lubang yaitu tindakan. Setelah itu baru kita bisa buka pelan – pelan ataupun dengan mendobrak pintu itu yang bisa kita lihat hasilnya nanti.
Paling tidak atau bisa kita sebut ” untunglah....!!!!” kita sudah bisa keluar dari lumpur kemungkinan itu. Tidak lagi berharap dari kemungkinan, kita telah membuka pintu dan bertegur sapa dengan harapan. Harapan pasti. Bila itu salah kita bisa ulang lagi. Menunggu. Menunggu untuk bertemu dengan harapan pasti dengan tercebur kembali kedalam kubangan yang bernama kemungkinan. Terus dan berulang. Tidak ada puasnya.
Apa kita sebagai manusia disaat sekarang ini membutuhkan kata mungkin? Sebuah kata dengan arti dan makna tak pasti. Bima dalam tokoh pewayangan jawa belum tentu bima bisa jadi arjuna. pandawa lima belum tentu ada lima bila kita tidak terpatok oleh angka lima. Bisa jadi enam sedangkan yang ada diingatan para seniman ataupun budayawan lima. Semua mungkin saja diciptakan oleh orang – orang zaman dulu bukan? mungkin saja bukan? Sekali lagi mungkin. Tak pasti. Kecewa.
Sekali lagi mungkin kata – kata mungkin memiliki arti yang juga mungkin. Apa kita harus terus berputar – putar dengan kemungkinan – kemungkinan? Tidak mengambil tindakan yang berujung pada kepastian. Itu yang mungkin sedang kita hadapi sebagai anak manusia yang lahir di indonesia menurut soekarno, dan auslia menurut tan malaka, dan bisa jadi hindia belanda menurut belanda. Tidak bisakah kita lari dari kata – kata mungkin dengan mengambil langkah pasti? Tidak terus berkutat dengan kata – kata mungkin yang dalam bentuk ilmiah mungkin bisa disebut dengan analisis. Kurasa tidak mungkin. Mungkin kita harus tetap berada di jelaga kemungkinan. Tetapi kita harus cepat keluar dari jelaga penuh lumpur kemungkinan itu bergelut didalamnya sampai kita menemukan sebuah kunci, kunci yaitu kepastian, kepastian tentang apa yang kita pilih dan akan jalani. yang kemudian kita masukkan kedalam lubang yaitu tindakan. Setelah itu baru kita bisa buka pelan – pelan ataupun dengan mendobrak pintu itu yang bisa kita lihat hasilnya nanti.
Paling tidak atau bisa kita sebut ” untunglah....!!!!” kita sudah bisa keluar dari lumpur kemungkinan itu. Tidak lagi berharap dari kemungkinan, kita telah membuka pintu dan bertegur sapa dengan harapan. Harapan pasti. Bila itu salah kita bisa ulang lagi. Menunggu. Menunggu untuk bertemu dengan harapan pasti dengan tercebur kembali kedalam kubangan yang bernama kemungkinan. Terus dan berulang. Tidak ada puasnya.
Subscribe to:
Posts (Atom)
